Kuliner

Sommeliers dan Restoran Menghadapi Tantangan Kecerdasan Buatan

dessertreport.com – Dunia kuliner menghadapi tantangan baru dalam pengalaman bersantap seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI). Menurut para pakar, penggunaan AI dalam memilih wine saat makan di restoran dapat mengurangi nilai pengalaman tersebut. Ini karena, biasanya, para sommelier menawarkan pengetahuan yang mendalam mengenai pilihan wine dan cara terbaik untuk menikmatinya.

Annie Shi, pemilik dan direktur minuman di King and Jupiter, menegaskan pentingnya kehadiran profesional di bidang hospitality yang mampu mengarahkan pelanggan, terutama bagi mereka yang tidak berpengalaman dalam memilih wine. “Tidak ada yang salah dengan tidak mengetahui apa pun tentang wine,” ujarnya. Keterlibatan seorang sommelier yang terlatih dapat menawarkan penjelasan rinci tentang setiap botol wine yang ada di menu, termasuk asal usul dan karakteristiknya.

Mengandalkan aplikasi AI untuk memutuskan pilihan wine sama dengan mengandalkan teori tanpa praktik. Diskusi langsung dengan sommelier dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam terkait wine dan kombinasi makanan. Misalnya, jika seseorang tertarik dengan wine Saperavi dari Georgia, sommelier dapat memberikan penjelasan mendalam tentang bagaimana wine tersebut cocok dengan hidangan daging panggang, serta menjelaskan perbedaan rasa yang dihasilkan dari proses pembuatan wine.

Chasity Cooper, penulis buku “The Wine Conversation Generator,” menekankan pentingnya interaksi sosial tanpa menggantungkan diri pada gadget. Dengan meninggalkan teknologi sejenak, pengunjung restoran dapat memperoleh pengalaman unik dan intim yang tidak dapat ditawarkan oleh mesin. Kegiatan bersantap di luar rumah, pada akhirnya, memberikan keajaiban yang jauh lebih menarik dibandingkan sekadar menikmati wine di depan layar ponsel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *